Toksisitas Timbal

Pengaruh Timbal Terhadap Kesehatan Manusia

Timbal tidak dibutuhkan dalam proses fisiologis manusia. Kehadirannya yang berlebihan akan menurunkan mutu pemanfaatan air, karena daya racunnya sangat kuat. Oleh karena itu sangat diperlukan pengukuran dan kontrol terhadap tingkat konsentrasinya di dalam bahan pangan dan air minum.

Timbal masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, diserap dan diedarkan melalui darah dan terakumulasi dalam hati, pankreas, dan tulang. Dalam beberapa kondisi rata-rata Pb diambil 300 μg dari makanan padat, 20 μg cairan dan 10-100 μg dari udara (Jones dan Jarvis, 1981).

Bila timbal terakumulasi dalam tubuh manusia, dapat meracuni atau merusak fungsi mental, perilaku, dan anemia. Apabila tingkat keracunan yang lebih berat dapat menyebabkan muntah-muntah serta kerusakan yang serius pada sistem saraf dan memungkinkan gangguan dalam sistem otak. Saeni (1995) menyebutkan bahwa partikel-partikel uap timbal bila terhirup lewat saluran pernafasan akan merusak kesehatan. Partikel halus yang terhirup masuk ke dalam paru-paru selanjutnya ke dalam darah.

Timbal dapat merusak dengan berbagai cara seperti pengurangan sel-sel darah merah, penurunan sintesa hemoglobin, dan penghambatan sintesa heme (gambar 3) yang menimbulkan anemia. Timbal dapat juga mempengaruhi sistem saraf intelegensia dan pertumbuhan anak-anak. Hal ini karena timbal dalam tulang dapat mengganti kalsium yang menyebabkan kelumpuhan. Half live timbal dalam tulang 600-3000 hari.

Kinetika Timbal. Setelah diabsorbsi, timbal didistribusikan ke jaringan lunak seperti otak, paru, hati, limpa dan sumsum tulang sebagai timbal difosfat, kemudian mengalami redistribusi dan disimpan dalam tulang sebagai timbal trifosfat yang sukar sekali larut. Proses ini berlangsung beberapa bulan bila penderita tidak diobati. Timbal disimpan dan dimobilisasi dari tulang sama seperti kalsium. Dalam keadaan terikat pada tulang ini dianggap tidak toksik dan toksisitas timbul jika berada dalam keadaan bebas. Pemberian banyak kalsium dan keadaan asidosis akan membebaskan timbal dari tulang menuju jaringan lunak. Intake fosfat tinggi mempermudah penimbunan timbal dalam tulang dan mengurangi timbal dalam jaringan lunak, sedangkan intake fosfat rendah akan mempermudah mobilisasi timbal dari tulang dan menambah timbal dalam jaringan lunak. Timbal diekskresi bersama urin, tinja dan keringat (sedikit). Ekskresi timbal ditingkatkan dengan pemberian CaNa2-EDTA atau penisilamin dan dimerkaprol.

Kehde (1972) mengatakan bahwa timbal sebagai racun bekerja terhadap enzim-enzim yang kaya akan gugus sulfhidril (SH) seperti ALA dehidratase (ALA-D) dan dalam mitokhondria yaitu ALA sintetase dan hemesintetase. Hambatan ini bersifat nonkompetitif, tetapi aktivitas enzim ini dapat dikembalikan in vitro dengan menambah dithiothreitol, yaitu suatu reagen yang melindungi gugus SH. Koproporfirin dekarboksilase dihambat lebih ringan dibandingkan yang lain. Ferokhelatase yaitu suatu enzim mitokhondria yang tidak ada pada eritrosit dewasa karena sel ini tidak mempunyai mitokhondria. Kenaikan protoporfirin eritrosit (PP eritrosit) menunjukkan hambatan ferokhelatase terjadi dini pada pre-kursor seri eritrosit dalam sumsum tulang, sehingga PP dan beberapa prekursornya meningkat dalam sumsum tulang, darah dan ekskreta. ALA serum (serum delta amino laevulinic acid) bertambah tidak sebanyak PP eritrosit, ALA ini meningkat pada serum dan urin. In vivo porfobilinogen (PBG) urin meningkat lebih sedikit di bandingkan yang terjadi in vitro. Perhatian utama ditujukan pada penentuan proporfirin eritrosit, ALA urin dan CP urin; dimana kadarnya meningkat bersamaan dengan munculnya sel bertitik basofil yang pertama dalam sumsum tulang. Untuk kasus ringan dan keperluan profilaksis dapat dilakukan pemeriksaan ALA urin saja. CP urin normal pada anak dengan berat dibawah 80 lb kurang lebih 0-75 μg/24 jam.

Heme synthesis - note that some reactions occur in the cytoplasm and some in the mitochondrion (yellow)

Dengan cheiating agent, ALA dan CP urin ini mula-mula menurun dengan cepat dan selanjutnya berlangsung lebih lambat. Penurunan PP eritrosit kadang-kadang makan waktu lebih lama, hal ini disebabkan karena PP eritrosit yang berlebihan membentuk kompleks dengan Zn dalam sel dan waktu paruh eritrosit yang cukup panjang. Peninggian PP eritrosit ini tidak spesifik untuk intoksikasi timbal. Hal ini dapat pula terjadi pada anemia defisiensi Fe dan porfiria herediter. Sedangkan CP urin juga meninggi pada demam rematik, poliomielitis, anemia defisiensi Fe, alkoholisme dan cirrhosis hepatis.

Kelainan metabolisme porfirin ini harus diperhatikan juga pada jaringan-jaringan selain darah, mengingat jumlah koproporfirin yang dikeluarkan melalui urin, seperti hepar dan ginjal. Kecuali itu terjadi perubahan proporsi normal HbA, HbF dan HbA2 yang mirip dengan thallasemia. Pengobatan bertujuan mengurangi konsentrasi timbal bebas dalam darah dan cairan tubuh, hal ini dilakukan dengan berbagai cara antara lain :

(1) Mencegah absorbsi Pb melalui usus dan paru.

(2) Memperlancar pengeluaran Pb dalam urin dan empedu tanpa merusak alat-alat ekskresi.

Saeni (1995) juga berpendapat bahwa setiap kenaikan 1 μm/m3 dapat menurunkan 0,975 skor IQ (tingkat kecerdasan) pada anak. Kandungan timbal dalam bahan bakar minyak juga dapat meracuni sistem pembentukan darah merah sehingga pada anak kecil dapat menyebabkan penurunan kemampuan otak, tetapi tidak semua timbal yang terhisap atau tertelan ke dalam tubuh akan tertinggal dalam tubuh.

Kira-kira 5% sampai 10% dari jumlah yang tertelan akan diabsorpsi melalui saluran pencernaan, dan sekitar 30% dari jumlah yang terhisap melalui hidung akan diabsorpsi melalui saluran pernafasan. Hanya sekitar 5-30% yang terabsorpsi melalui saluran pernafasan akan tertinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi oleh ukuran partikelnya. Timbal organik bahkan dapat merusak pertumbuhan jaringan tulang pada anak. Adapun pengaruh kesehatan jumlah timbal dalam darah anak ditunjukkan pada tabel berikut:

Kandungan timbal maksimal yang boleh terbawa dalam bahan makanan yang di syaratkan oleh FAO/ WHO dan Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan yaitu 2 ppm. Timbal yang masuk ke dalam tubuh akan dibuang melalui urine, rambut, keringat, kuku, dan feces.

Menurut Giddings (1973), besarnya tingkat peracunan timbal dipengaruhi oleh:

1. Umur janin yang masih berada di dalam kandungan, balita dan anak-anak lebih rentan dibandingkan orang dewasa.

2. Jenis kelamin. Wanita lebih rentan daripada pria.

3. Penderita penyakit keturunan atau orang-orang yang sedang sakit lebih rentan.

4. Musim-musim panas akan meningkatkan daya racun timbal terutama terhadap anak-anak.

5. Premium alkohol akan lebih rentan terhadap timbal.

Kemampuan afinitas kimia yang sangat tinggi dari logam berat terhadap unsur belerang menyebabkan terjadinya ikatan logam berat dengan S pada setiap kesempatan. Sebagian besar logam berat akan berikatan dengan atom S dalam jembatan sulfida ataupun dalam gugusan sulfidril. Sehingga organisme yang dalam molekul proteinnya banyak mengandung ikatan S-Pb akan lebih cepat mati, karena proses metabolisme dalam selnya terganggu. Proses kimia tersebut diakibatkan oleh adanya pencemaran logam berat dalam air minum maupun makanan (Giddings, 1973).

Orang-orang yang bekerja langsung berhubungan dengan bensin seperti petugas pompa bensin dan pintu tol, Polantas, sopir taksi, dan pegawai dapat mengakumulasi Pb di dalam darahnya lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja yang tidak langsung berhubungan dengan bahan bakar fosil. Timbal dapat mempengaruhi aktivitas enzim ini di dalam pembentukan hemoglobin (Hb) di butir darah merah.

Linder (1992) mengemukakan bahwa tingkat konsumsi Pb dapat meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan kaleng atau susu bubuk, karena penyegelan kaleng menggunakan solder Pb. Bila sudah masuk ke dalam tubuh, timbal didistribusikan melalui darah yang hampir semuanya ada di dalam eritrosit. Sekitar 90% Pb akan ditimbun di dalam tulang dan sisanya dalam jaringan lemak terutama hati dan ginjal. Oleh tubuh, timbal diekskresi dalam empedu, 10-20% melalui urine. Zat-zat pengkhelat seperti EDTA dapat menghilangkan Pb yang berlebihan dari jaringan lunak pada tubuh.

Kadar normal Pb pada orang dewasa adalah antara 0,4-0,5 μg/mL darah lengkap, sedangkan untuk anak-anak 0,25 μg/mL darah. Kadar Pb yang normal dalam rambut adalah 20 μg/g, sedangkan pada kadar Pb dalam rambut lebih dari 40 μg/g sudah menunjukkan keracunan yang kronis. Akibat keracunan timbal yang lainnya adalah tidak berfungsinya sperma. Baird (1995), hasil penelitian di Australia pada anak dengan kandunga timbal 30 μg/100 g darah, rata-rata IQ 4-5 satuan lebih rendah dibanding anak dengan kandungan timbal 10 μg/100 g darah.

About these ads

4 Responses to “Toksisitas Timbal”

  1. Bagaimana cara menurunkan kadar Pb dalam tubuh secara medis?? Yang dimaksud EDTA itu apa?? Mohon informasinya. Terima kasih

    • Kalo secara medis saya masih belum tau pastinya, akan tetapi di dalam tubuh manusia terdapat enzim sitokorm p-450 yang berfungsi untuk mengikat semua logam yang berbahaya untuk diekskresikan melalui urine, sedangkan kalo untuk hewan biasanya di gunakan EDTA sebagai
      chelating agent. EDTA merupakan ethylenediaminetetraacetic acid jadi EDTA ini berfungsi sama dengan sitokorm p450. Mekanismenya dengan memerangkap Pb/Timbal ke dalam ikatan EDTA dan di ekskresikan melalui urine

  2. Jhonmaraya Says:

    Apakah ada kemungkinan uap minyak bumi selama proses drilling mengandung Pb dan mempengaruhi kesehatan pekerjanya?

  3. Apa ada standar Pb dalam urin (WHO)??

    Klo ada, berapa??

    Makasih yah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: